Kucing Gunung Tiongkok
Felis bieti

Evolusi & taksonomi
Spesies ini dideskripsikan oleh zoolog Prancis Alphonse Milne-Edwards pada 1892 dan dinamai untuk menghormati Félix Biet, misionaris Prancis di Tibet yang mengirimkan spesimennya. Lebih dari satu abad kemudian, ia tetap felid yang paling sedikit dipelajari: sebagian besar pengetahuan awal berasal dari kulit di pasar bulu dan spesimen museum, bukan pengamatan lapangan.
Posisi taksonominya diperdebatkan hingga kini. Analisis mtDNA Driscoll dan koleganya (2007) menempatkannya di dalam kompleks kucing liar sebagai F. silvestris bieti, [4] tetapi revisi taksonomi Felidae 2017 mempertahankannya sebagai spesies penuh sambil menunggu data genetik yang lebih luas. [3] Studi genomik Yu dan koleganya (2021) memperkuat kedekatannya dengan kucing liar sekaligus mengungkap introgresi dari kucing domestik ke populasi bieti. [2]
Ciri fisik & adaptasi
Kucing gunung Tiongkok tampak seperti kucing rumah besar yang dibungkus mantel musim dingin permanen. Bobotnya 6,5–9 kg dengan panjang tubuh sekitar 69–84 cm; bulunya tebal dan panjang, kelabu pasir kekuningan dengan belang samar di tungkai, wajah, dan panggul — kamuflase efektif di padang rumput kering. Telinganya berujung jumbai rambut kecil, dan ekornya tebal dengan beberapa cincin gelap serta ujung hitam.
Adaptasinya adalah paket dataran tinggi: mantel padat untuk musim dingin yang membekukan, telinga dan pendengaran yang tajam untuk mendeteksi mangsa penggali di bawah permukaan, serta tubuh kekar berkaki relatif pendek yang cocok untuk medan terbuka berangin daripada pengejaran cepat. Bulu tumbuh rapat hingga menutup bantalan kaki membantunya menghadapi tanah beku.
Perilaku & ekologi
Pengamatan langsung sangat langka, tetapi gambaran umumnya konsisten: soliter, paling aktif senja hingga fajar, dan berlindung di liang — sering bekas liang marmut — di lereng berumput. Mangsa utamanya mamalia kecil dataran tinggi: pika, zokor (rodensia penggali yang jarang muncul ke permukaan), vole, dan hamster, dilengkapi burung seperti sandgrouse dan sesekali kelinci. [5]
Teknik berburunya yang paling khas terdokumentasi pada zokor: ia mendengarkan pergerakan di terowongan dangkal, lalu menggali cepat untuk menyergapnya. Perkembangbiakan berlangsung awal tahun; anak — umumnya dua sampai empat ekor — dilahirkan di liang pada musim semi. Di luar itu, parameter dasarnya — wilayah jelajah, kepadatan, umur — praktis belum terukur di alam liar.
Habitat & sebaran
Seluruh sebaran terverifikasinya berada di Tiongkok, di tepi timur Dataran Tinggi Tibet: provinsi Qinghai dan Sichuan barat, dengan catatan yang lebih tua dari Gansu. Rekord historis dari wilayah lain — termasuk Mongolia Dalam — kini umumnya dianggap salah identifikasi. Ia hidup pada 2.500–5.000 meter di atas permukaan laut. [1]
Habitatnya padang rumput alpen, semak subalpen, dan tepi stepa pegunungan — lanskap terbuka dengan komunitas rodensia yang kaya dan liang untuk berlindung; ia menghindari gurun sejati dan hutan lebat. Kawasan Sanjiangyuan di Qinghai, hulu tiga sungai besar Asia, menjadi salah satu benteng populasi yang paling sering menghasilkan rekord modern.
Ancaman & kesehatan populasi
Ancaman yang paling sering dikutip adalah kampanye peracunan pika dan rodensia yang dilakukan besar-besaran di padang rumput Tiongkok barat sejak paruh kedua abad ke-20 — menggerus basis mangsa utamanya dan menimbulkan risiko keracunan sekunder. [1] Degradasi padang rumput oleh penggembalaan berlebih serta konversi dan pemagaran lahan menambah tekanan habitat.
Perdagangan bulu secara historis nyata — kulitnya dulu dijual di pasar-pasar lokal — meski kini berkurang berkat perlindungan hukum. Ancaman yang lebih baru terdeteksi lewat genom: hibridisasi dengan kucing domestik yang menyertai ekspansi permukiman ke dataran tinggi, ditambah risiko penyakit dari kucing dan anjing domestik. [2] Dampak kumulatifnya sulit diukur justru karena populasinya begitu jarang terpantau.
Status konservasi
IUCN Red List menilai kucing gunung Tiongkok Vulnerable, dengan populasi diperkirakan kurang dari 10.000 individu dewasa dan cenderung menurun. [1] Ia masuk Apendiks II CITES dan dilindungi hukum satwa liar nasional Tiongkok.
Konservasi praktisnya masih tahap fondasi: memetakan di mana ia sebenarnya bertahan. Survei kamera jebak oleh lembaga riset dan organisasi konservasi Tiongkok — terutama di Sanjiangyuan dan lanskap Qinghai lainnya — perlahan mengisi peta sebarannya, sementara advokasi berfokus pada reformasi kampanye anti-pika menuju pengelolaan padang rumput yang tidak meracuni rantai makanan. Sebagai felid endemik satu-satunya di Tiongkok, ia mulai diangkat sebagai simbol konservasi padang rumput dataran tinggi — peran yang selama ini didominasi macan tutul salju.
Galeri

Referensi
- IUCN Red List. Felis bieti assessment.
- Yu, H., dkk. (2021). "Genomic evidence for the Chinese mountain cat as a wildcat conspecific and its introgression to domestic cats." Science Advances 7.
- Kitchener, A. C., dkk. (2017). "A revised taxonomy of the Felidae." Cat News Special Issue 11, 1–80.
- Driscoll, C. A., dkk. (2007). "The Near Eastern origin of cat domestication." Science 317(5837), 519–523.
- Sunquist, M. & Sunquist, F. (2002). Wild Cats of the World. University of Chicago Press.
- Hunter, L. (2015). Wild Cats of the World. Bloomsbury.



