Kucing Pampas
Leopardus colocola

Evolusi & taksonomi
Kucing pampas dideskripsikan oleh Juan Ignacio Molina pada 1782 dari Chile — sumber nama colocola, yang diambil dari nama pemimpin Mapuche, Colocolo. Sejak itu taksonominya tak pernah benar-benar tenang: variasi mantel yang ekstrem antar-wilayah membuat para taksonom silih berganti memecah dan menyatukannya.
Dalam filogeni molekuler ia anggota genus Leopardus, radiasi kucing Amerika Selatan berkromosom 36. [2] Revisi Cat Classification Task Force 2017 memperlakukannya sebagai satu spesies politipik, [3] tetapi studi morfologi dan molekuler yang lebih baru mengusulkan pemecahan menjadi hingga lima spesies — dari pajeros di selatan hingga garleppi di Puna. Bagi konservasi, perdebatan ini bukan sekadar akademik: memecah satu spesies luas menjadi lima spesies sempit mengubah drastis status ancaman masing-masing.
Ciri fisik & adaptasi
Kucing pampas bertubuh kekar dengan kaki relatif pendek, bobot sekitar tiga sampai empat kilogram, dan wajah lebar yang membuatnya tampak lebih besar dari ukuran aslinya. Ciri paling terkenalnya justru ketidakseragamannya: tak ada felid Amerika lain dengan variasi mantel selebar ini. Populasi Andes mengenakan bulu panjang kemerahan-oker dengan roset samping dan belang hitam pekat di kaki; populasi cerrado dan pampas berbulu lebih pendek dan lebih polos keabuan; sebagian bentuk memiliki surai punggung yang berdiri saat terancam.
Telinganya runcing — pembeda dari telinga bundar kucing gunung Andes — dan hidungnya merah muda. Untuk hewan seukuran itu rahangnya kuat, cocok untuk mangsa daratnya: rodensia, kavia, dan burung tanah. Ukuran tubuh pun ikut bervariasi mengikuti sebaran: bentuk-bentuk Puna dan Patagonia yang hidup di iklim keras cenderung lebih besar dan berbulu lebih tebal daripada kerabat mereka di sabana tropis — gradien yang menambah bahan bakar perdebatan taksonominya.
Perilaku & ekologi
Dibanding kerabatnya, ekologi kucing pampas relatif jarang dipelajari — ia hidup tersebar tipis di lanskap luas dan sulit diikuti. Data yang ada menggambarkannya sebagai pemburu darat soliter dengan pola aktivitas lentur: nokturnal di sebagian wilayah, lebih aktif siang di wilayah lain, tampaknya menyesuaikan mangsa dan tingkat gangguan.
Menunya didominasi rodensia kecil dan kavia, ditambah burung tanah — termasuk telur dari sarang di permukaan — reptil, dan bangkai; di dekat permukiman ia sesekali menyerang kandang unggas, sumber konflik utamanya dengan manusia. Tentang reproduksinya di alam, hampir semua yang diketahui berasal dari penangkaran: kebuntingan sekitar 80 hari dengan satu sampai tiga anak. Sisanya — sistem teritori, perilaku kawin, penyebaran anak — masih ruang kosong yang menunggu studi telemetri.
Habitat & sebaran
Peta sebarannya membentang dari Ekuador menyusuri Andes ke Peru, Bolivia, Chile, dan Argentina hingga Patagonia selatan, lalu melebar ke timur ke chaco Paraguay, cerrado dan pantanal Brasil, serta padang Uruguay. Rentang vertikalnya luar biasa: dari permukaan laut hingga sekitar 5.000 meter di Puna.
Benang merahnya adalah lanskap terbuka: padang rumput, semak, sabana, stepa, dan tepian hutan kering — bukan interior hutan lebat, yang ia serahkan pada kerabat-kerabat tutulnya. Justru preferensi ini yang menjadi kutukannya: padang rumput beriklim sedang dan sabana tropis adalah bioma yang paling intensif dikonversi di Amerika Selatan, dari pampas gandum-kedelai Argentina hingga front pertanian cerrado Brasil. [1]
Ancaman & kesehatan populasi
Ancaman utamanya bukan perburuan komersial — kulitnya tak pernah sebernilai oselot — melainkan hilangnya habitat secara diam-diam: pampas Argentina dan Uruguay kini nyaris seluruhnya menjadi lahan pertanian dan penggembalaan, dan cerrado Brasil menyusut cepat oleh ekspansi kedelai. Populasi dataran rendahnya terpecah di fragmen-fragmen padang yang tersisa.
Di atasnya bertumpuk tekanan lokal: pembalasan atas serangan unggas, anjing, kematian di jalan yang tercatat tinggi di beberapa wilayah, kebakaran padang, serta — di Andes — pengambilan untuk penggunaan seremonial serupa yang menimpa kucing gunung. Penyakit dari kucing domestik yang kian merambah lanskap pertanian menjadi kekhawatiran tambahan yang belum terkuantifikasi. [1]
Status konservasi
IUCN Red List menilai kompleks kucing pampas Near Threatened dengan tren menurun — status yang menyembunyikan ketimpangan besar antar-wilayah: bentuk Puna relatif aman di lanskap luas yang jarang penduduk, sementara bentuk padang rumput selatan dan timur kehilangan habitat paling cepat. [1] Bila taksonomi lima spesies kelak diadopsi, sebagian pecahannya hampir pasti langsung tergolong terancam. Ia masuk Apendiks II CITES.
Konservasinya bergantung pada nasib padang rumput Amerika Selatan — bioma yang kalah pamor dari hutan hujan dalam agenda global. Perlindungan sisa pampas asli, pengelolaan cerrado, dan program koeksistensi unggas-kucing di sekitar permukiman adalah medan utamanya; di Puna, ia menumpang pada kerja jejaring konservasi kucing gunung Andes.
Galeri

Referensi
- IUCN Red List (2016). Leopardus colocola assessment.
- Johnson, W. E., dkk. (2006). "The Late Miocene radiation of modern Felidae: a genetic assessment." Science 311(5757), 73–77.
- Kitchener, A. C., dkk. (2017). "A revised taxonomy of the Felidae." Cat News Special Issue 11, 1–80.
- Sunquist, M. & Sunquist, F. (2002). Wild Cats of the World. University of Chicago Press.
- Hunter, L. (2015). Wild Cats of the World. Bloomsbury.
- Macdonald, D. W. & Loveridge, A. J. (eds.) (2010). Biology and Conservation of Wild Felids. Oxford University Press.



